Contact Me

Email me: ivan_arista@yahoo.com


Tuesday, 4 November 2008

JANGAN GOSOK-GOSOK DI MEJA, AKU MAU TIDUR!

Sebuah cerita yang terinspirasi pada suatu pagi, sesaat sebelum saya mulai satu hari magang saya.

”Jangan gosok-gosok di meja, aku mau tidur!”. Apa maksud dari perkataan itu? Tidak bakal dimengerti apabila tidak dijelaskan, apakah hubungan menggosok meja dengan tidur? Begini ceritanya. Ada seorang teman saya yang sedang tidur di meja kerja. Apabila saya menggosok-gosok meja dengan barang tertentu, sebut saja mouse komputer atau botol minum, maka akan timbul suara-suara berisik yang menurut orang yang sedang tidur ini akan mengganggu tidurnya. Diapun kemudian mengucapkan kalimat tersebut di atas untuk menghentikan gesekan-gesekan itu agar dia dapat melanjutkan tidurnya dengan tenang.

Yah, itulah ceritanya. Apa yang dapat kita petik dari cerita di atas? Saya tidak akan mengatakan teman saya itu egois karena tidak ingin tidurnya terganggu karena memang tidak ada larangan tidur di luar jam kerja. Saya tidak akan mengatakan teman saya sebagai keras kepala karena memang pada saat peristiwa itu terjadi, jam kerja belum dimulai. Saya tidak akan memiliki pemikiran yang negatif apapun, namun saya ingin kita dapat berpikir bersama, apa yang seharusnya menjadi kondisi yang lebih ideal dan dapat menghindarkan terjadinya konflik, meskipun saya menganggap konflik sebagai sesuatu yang membangun.

Cermati kalimat tersebut. Ada dua pelaku dan dua peristiwa yang sebenarnya tidak saling terkait. Ada orang yang tidur, ada orang yang menggosok-gosokkan barang tertentu di meja. Apa hubungan dua peristiwa itu? Tidak ada sebenarnya namun menjadi ada karena dua kegiatan dilakukan di tempat yang sama. Siapa yang salah di peristiwa itu? Siapa yang harus mengalah dan menghentikan kegiatannya? Siapa yang salah apabila salah satu pelaku menyalahkan pelaku yang lainnya?

Tidak ada larangan untuk tidur, tidak ada larangan untuk menggesekkan barang di meja. Keduanya sama-sama melakukan hal yang tidak melanggar apapun, dengan demikian dapat saya katakan bahwa keduanya tidak bersalah, bukan? Apabila tidak ada yang bersalah, apakah ada salah satu yang harus mengalah atau bahkan keduanya menghentikan kegiatannya? Juga tidak perlu menurut saya. Jika demikian, apabila ada seseorang pelaku yang menyalahkan pelaku yang lainnya, siapa yang salah? Bukankah orang yang menyalahkan orang lain yang tidak bersalah itu salah? Dengan demikian dapat saya katakan bahwa apabila ada seseorang yang menyalahkan yang lain, maka orang yang menyalahkan tersebutlah yang salah. Benar tidak?
Semua berawal pada kebebasan. Setiap orang berhak untuk melakukan apa yang dianggapnya benar, tidak melanggar peraturan, tidak melanggar hak asasi manusia, tidak melanggar adat istiadat yang berkembang di dalam kehidupan bermasyarakat, dan yang terpenting adalah tidak melanggar hati nurani dan nilai-nilai keagamaan yang dianutnya. Apabila ada seseorang yang terganggu karena merasa kebebasannya dilangkahi padahal orang yang dianggap menyalahi kebebasan tersebut tidak merasa melakukan hal-hal di luar batas kebenaran menurutnya, apa yang harus dilakukan? Mana yang lebih mudah untuk dilakukan, mengubah tingkat toleransi yang kita miliki atau mengubah nilai-nilai kebebasan yang kita anut? Buat saya, meningkatkan atau mengurangi rasa toleransi saya adalah jauh lebih mudah daripada saya harus mengubah nilai-nilai kebenaran yang saya anut. Bagaimana dengan anda?

Kita semua harus belajar untuk lebih meningkatkan toleransi kita kepada orang lain, kepada siapapun, dan menyadari bahwa kebenaran dan kebebasan tidak hanya ada untuk kita, namun juga untuk semua orang. Tidak perlu mengurusi kebebasan orang lain secara berlebihan karena hal itu akan membawa dampak negatif bagi kita sendiri. Rasa jengkel, pemikiran yang terlampau jauh, pemikiran negatif, dan hal-hal yang lain yang tidak perlu dipikirkan, setidaknya itu menurut saya, akan muncul apabila kita terlampau suka mencampuri kebebasan yang dimiliki orang lain itu.

Kembali ke contoh kasus di atas. Apabila kita berada pada salah satu posisi itu, akankah kita akan menegur teman kita yang lain, seperti ”Jangan gosok-gosok di meja, aku mau tidur!”? Jika saya, tidak akan, karena hal itu tidak ada gunanya. Jangan terlalu banyak bereaksi tentang kebebasan yang dilakukan oleh orang lain, baik dalam hal perbuatan maupun perkataan. Apabila ada perkataan atau perbuatan anda yang mendapat umpan balik berupa komentar dari orang lain, meskipun orang itu bukan merupakan lawan bicara anda, meskipun anda sangat membenci orang itu, meskipun orang itu yang memberikan komentar yang sangat pedas, meskipun orang itu memberikan komentar yang mana anda sama sekali tidak sependapat dengannya, apa hak anda untuk menyalahkannya? Sama sekali tidak ada, karena setiap orang bebas untuk berpendapat. Apabila kita marah atau menyalahkannya, bukankah kita yang salah? Pikirkanlah orang yang berbeda pendapat dengan anda itu juga mempunyai kebebasan berpendapat, atau dengan pemikiran lain yang lebih positif adalah bahwa anda juga mempunyai kebebasan berpendapat yang sama. Anda harus bersedia menerima komentar atau tanggapan apapun dari orang lain karena anda juga berhak untuk mengomentari setiap perkataan dan perbuatan orang lain kapanpun anda inginkan. Mengapa? Sekali lagi karena itu memang tidak bersalah!

Akhir kata, semua orang tidak sempurna, pasti setiap dari kita akan melakukan kesalahan, atau dengan kata lain, ”Saya tidak mau dikritik oleh orang yang saya rasa tidak lebih benar dari saya!”. Sebuah ungkapan paling bodoh untuk siapa yang tidak bersedia mengakui besarnya kesalahan yang ada pada dirinya sendiri, pengecut. Tidak sependapat? Saya menunggu segala jenis tanggapan, saran, maupun kritik di email saya.

Ivan Arista
ivan_arista@yahoo.com
+628123100679