Contact Me

Email me: ivan_arista@yahoo.com


Saturday, 13 December 2008

Jangan makan, nanti tersedak!

Jangan makan, nanti tersedak!

”Menghindari pengambilan resiko berarti mengambil resiko yang terbesar”
-Stuart Avery Gold, “Ping”-

Setiap orang mempunyai ketakutan masing-masing di dalam hatinya, namun seberapa besar ketakutan tersebut akan berpengaruh pada tindakan yang kita lakukan? Semakin besar rasa takut seseorang, maka kreativitas dan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang akan semakin sempit dan terbatas pada tindakan-tindakan biasa. Tindakan-tindakan biasa yang kita lakukan tidak akan pernah membawa kita menjadi orang yang luar biasa. Kembali pada diri kita masing-masing, mana yang ingin kita capai? Menjadi orang biasa sama seperti mayoritas atau menjadi orang luar biasa yang memang minoritas? Jawaban ada pada diri kita masing-masing.

Salah satu, memang bukan satu-satunya, cara untuk menuju ke orang yang luar biasa, cara yang cukup efektif, mudah, namun tidak banyak yang mau melakukannya adalah dengan menghilangkan rasa takut yang ada pada diri kita masing-masing karena kepercayaan diri yang ada pada diri kita itulah yang akan membawa kita menjadi orang luar biasa. Pikirkanlah, bagaimana mungkin orang pedesaan dapat menjadi presiden (Pak Harto), orang tuli bisa menemukan lampu (Thomas Alfa Edison), orang tidak lulus sekolah bisa menjadi salah satu orang terkaya di dunia (Bill Gates), orang yatim piatu SD tidak tamat bisa menjadi motivator terbaik di Indonesia (Andrie Wongso), jika kita selalu berpikir sistematis menggunakan logika, semua hal itu tidak mungkin, namun kenyataannya?

Sering kali kita selalu terjebak dalam ketakutan-ketakutan. Hal ini akan membuat kita terlalu banyak pertimbangan yang pada akhirnya akan menyia-nyiakan kesempatan yang kita miliki apabila kesempatan tersebut jarang muncul. Takut membuat program HIMA karena takut ditolak BPMF, terus menerus dipertimbangkan hingga pada akhirnya periode kepengurusan telah habis dan tidak ada kesempatan lagi untuk membuat program atau takut mengundang dosen di acara perpisahan karena takut kekurangan dana hingga pada akhirnya pesta perpisahan berlangsung dan timbul masalah merupakan contoh ketakutan-ketakutan membawa kerugian yang terjadi di dunia kuliah. Takut dimarahi oleh atasan sehingga kita tidak berani mengungkapkan sesuatu yang menurut kita lebih benar hingga pada akhirnya waktu yang kita miliki berakhir, takut memulai usaha karena takut rugi hingga pada akhirnya kesempatan usaha itu dimanfaatkan oleh orang lain merupakan contoh ketakutan-ketakutan membawa kerugian yang terjadi di dunia kuliah. Takut membeli barang karena takut terlalu mahal hingga pada akhirnya barang tersebut habis dibeli orang lain, takut menolak ajakan teman karena takut dianggap tidak setia kawan hingga pada akhirnya menyiksa diri sendiri merupakan contoh ketakutan-ketakutan membawa kerugian yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Masih banyak ketakutan-ketakutan lainnya yang entah kita sadari atau tidak, telah dan akan terus membawa kerugian bagi kita!

Memperhitungkan segala sesuatu adalah baik namun terlalu memperhitungkan adalah tindakan buang-buang waktu yang tidak berguna. Jika saya melakukan A nanti B, bila B maka C, setelah C muncul D, D berakhir menyebabkan E, E usai F timbul, bla bla bla hingga Z, Z itu buruk bagi saya sehingga saya tidak melakukan semuanya. Apakah itu yang anda harapkan untuk terjadi? Kita harus mengingat prinsip kesuksesan yang mana kesuksesan adalah titik temu antara kesempatan dan kesiapan. Ada kalanya kita mempunyai waktu yang begitu besar sebelum kesempatan itu pergi, namun sering kali kesempatan itu hanya akan datang sekejap mata saja. Apabila anda terlalu banyak berpikir, hilanglah kesempatan itu. Hilanglah peluang anda untuk meraih kesuksesan.

Memang ada benarnya, kita harus mempertimbangkan dengan baik keputusan yang kita ambil agar tidak dibilang ”pengawuran”. Itu tidaklah salah, namun setiap dari kita dibekali intuisi sebagai seorang manusia yang bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah untuk diri kita sendiri. Asahlah intuisi itu sehingga kita dapat mengambil keputusan yang cepat dan tepat, juga asahlah rasa percaya diri anda untuk dapat mencegah hilangnya peluang yang anda miliki begitu saja. Ingat, menghindari pengambilan resiko berarti mengambil resiko yang terbesar. Jangan pernah takut mengambil resiko!

Akhir kata, semua orang tidak sempurna, pasti setiap dari kita akan melakukan kesalahan, atau dengan kata lain, ”Saya tidak mau dikritik oleh orang yang saya rasa tidak lebih benar dari saya!”. Sebuah ungkapan paling bodoh untuk siapa yang tidak bersedia mengakui besarnya kesalahan yang ada pada dirinya sendiri, pengecut. Tidak sependapat? Saya menunggu segala jenis tanggapan, saran, maupun kritik di email saya.

Ivan Arista
ivan_arista@yahoo.com
+628123100679

Tuesday, 4 November 2008

JANGAN GOSOK-GOSOK DI MEJA, AKU MAU TIDUR!

Sebuah cerita yang terinspirasi pada suatu pagi, sesaat sebelum saya mulai satu hari magang saya.

”Jangan gosok-gosok di meja, aku mau tidur!”. Apa maksud dari perkataan itu? Tidak bakal dimengerti apabila tidak dijelaskan, apakah hubungan menggosok meja dengan tidur? Begini ceritanya. Ada seorang teman saya yang sedang tidur di meja kerja. Apabila saya menggosok-gosok meja dengan barang tertentu, sebut saja mouse komputer atau botol minum, maka akan timbul suara-suara berisik yang menurut orang yang sedang tidur ini akan mengganggu tidurnya. Diapun kemudian mengucapkan kalimat tersebut di atas untuk menghentikan gesekan-gesekan itu agar dia dapat melanjutkan tidurnya dengan tenang.

Yah, itulah ceritanya. Apa yang dapat kita petik dari cerita di atas? Saya tidak akan mengatakan teman saya itu egois karena tidak ingin tidurnya terganggu karena memang tidak ada larangan tidur di luar jam kerja. Saya tidak akan mengatakan teman saya sebagai keras kepala karena memang pada saat peristiwa itu terjadi, jam kerja belum dimulai. Saya tidak akan memiliki pemikiran yang negatif apapun, namun saya ingin kita dapat berpikir bersama, apa yang seharusnya menjadi kondisi yang lebih ideal dan dapat menghindarkan terjadinya konflik, meskipun saya menganggap konflik sebagai sesuatu yang membangun.

Cermati kalimat tersebut. Ada dua pelaku dan dua peristiwa yang sebenarnya tidak saling terkait. Ada orang yang tidur, ada orang yang menggosok-gosokkan barang tertentu di meja. Apa hubungan dua peristiwa itu? Tidak ada sebenarnya namun menjadi ada karena dua kegiatan dilakukan di tempat yang sama. Siapa yang salah di peristiwa itu? Siapa yang harus mengalah dan menghentikan kegiatannya? Siapa yang salah apabila salah satu pelaku menyalahkan pelaku yang lainnya?

Tidak ada larangan untuk tidur, tidak ada larangan untuk menggesekkan barang di meja. Keduanya sama-sama melakukan hal yang tidak melanggar apapun, dengan demikian dapat saya katakan bahwa keduanya tidak bersalah, bukan? Apabila tidak ada yang bersalah, apakah ada salah satu yang harus mengalah atau bahkan keduanya menghentikan kegiatannya? Juga tidak perlu menurut saya. Jika demikian, apabila ada seseorang pelaku yang menyalahkan pelaku yang lainnya, siapa yang salah? Bukankah orang yang menyalahkan orang lain yang tidak bersalah itu salah? Dengan demikian dapat saya katakan bahwa apabila ada seseorang yang menyalahkan yang lain, maka orang yang menyalahkan tersebutlah yang salah. Benar tidak?
Semua berawal pada kebebasan. Setiap orang berhak untuk melakukan apa yang dianggapnya benar, tidak melanggar peraturan, tidak melanggar hak asasi manusia, tidak melanggar adat istiadat yang berkembang di dalam kehidupan bermasyarakat, dan yang terpenting adalah tidak melanggar hati nurani dan nilai-nilai keagamaan yang dianutnya. Apabila ada seseorang yang terganggu karena merasa kebebasannya dilangkahi padahal orang yang dianggap menyalahi kebebasan tersebut tidak merasa melakukan hal-hal di luar batas kebenaran menurutnya, apa yang harus dilakukan? Mana yang lebih mudah untuk dilakukan, mengubah tingkat toleransi yang kita miliki atau mengubah nilai-nilai kebebasan yang kita anut? Buat saya, meningkatkan atau mengurangi rasa toleransi saya adalah jauh lebih mudah daripada saya harus mengubah nilai-nilai kebenaran yang saya anut. Bagaimana dengan anda?

Kita semua harus belajar untuk lebih meningkatkan toleransi kita kepada orang lain, kepada siapapun, dan menyadari bahwa kebenaran dan kebebasan tidak hanya ada untuk kita, namun juga untuk semua orang. Tidak perlu mengurusi kebebasan orang lain secara berlebihan karena hal itu akan membawa dampak negatif bagi kita sendiri. Rasa jengkel, pemikiran yang terlampau jauh, pemikiran negatif, dan hal-hal yang lain yang tidak perlu dipikirkan, setidaknya itu menurut saya, akan muncul apabila kita terlampau suka mencampuri kebebasan yang dimiliki orang lain itu.

Kembali ke contoh kasus di atas. Apabila kita berada pada salah satu posisi itu, akankah kita akan menegur teman kita yang lain, seperti ”Jangan gosok-gosok di meja, aku mau tidur!”? Jika saya, tidak akan, karena hal itu tidak ada gunanya. Jangan terlalu banyak bereaksi tentang kebebasan yang dilakukan oleh orang lain, baik dalam hal perbuatan maupun perkataan. Apabila ada perkataan atau perbuatan anda yang mendapat umpan balik berupa komentar dari orang lain, meskipun orang itu bukan merupakan lawan bicara anda, meskipun anda sangat membenci orang itu, meskipun orang itu yang memberikan komentar yang sangat pedas, meskipun orang itu memberikan komentar yang mana anda sama sekali tidak sependapat dengannya, apa hak anda untuk menyalahkannya? Sama sekali tidak ada, karena setiap orang bebas untuk berpendapat. Apabila kita marah atau menyalahkannya, bukankah kita yang salah? Pikirkanlah orang yang berbeda pendapat dengan anda itu juga mempunyai kebebasan berpendapat, atau dengan pemikiran lain yang lebih positif adalah bahwa anda juga mempunyai kebebasan berpendapat yang sama. Anda harus bersedia menerima komentar atau tanggapan apapun dari orang lain karena anda juga berhak untuk mengomentari setiap perkataan dan perbuatan orang lain kapanpun anda inginkan. Mengapa? Sekali lagi karena itu memang tidak bersalah!

Akhir kata, semua orang tidak sempurna, pasti setiap dari kita akan melakukan kesalahan, atau dengan kata lain, ”Saya tidak mau dikritik oleh orang yang saya rasa tidak lebih benar dari saya!”. Sebuah ungkapan paling bodoh untuk siapa yang tidak bersedia mengakui besarnya kesalahan yang ada pada dirinya sendiri, pengecut. Tidak sependapat? Saya menunggu segala jenis tanggapan, saran, maupun kritik di email saya.

Ivan Arista
ivan_arista@yahoo.com
+628123100679

Thursday, 18 September 2008

Life Story-04: Buang sampah tidak hanya pada tempatnya, namun sesuaikan juga dengan jenisnya!

Buang sampah tidak hanya pada tempatnya, namun sesuaikan juga dengan jenisnya!

Sebuah pengalaman berharga menurut saya yang secara tidak sengaja saya dapatkan ketika saya sedang berjalan-jalan bersama beberapa orang teman saya di sebuah mal di Jakarta…

Alkisah, ada seseorang mempunyai karakter yang cukup kuat melekat pada dirinya. Orang-orang yang sehari-hari berada di dekatnya tidak mungkin tidak mengerti karakter yang ada pada diri orang tersebut. Cukup keras kepala, perfeksionis, setidaknya hal itulah yang muncul dari pengakuannya sendiri. Hal itu tercermin di dalam perilaku sehari-hari, suatu ketika pada saat ada seseorang yang berusaha untuk mengubah konsep berpikirnya, dengan jelas dia mengatakan, ”Jangan pernah mencoba untuk mengubah konsep berpikir dan keputusan yang telah saya buat, karena saya tidak akan melakukan hal tersebut”. Dari sana, saya berpikir mungkin idealisme yang ada pada diri orang tersebut adalah hal yang positif menurut dirinya sehingga layak untuk dipertahankan. Pandanglah dari segi positif, setidaknya dengan keteguhan hati yang dimilikinya, dia pasti memiliki tanggung jawab yang sesuai besarnya.
Suatu hari, di sebuah toko baju di dalam mal, ada model baju yang cukup menarik perhatian saya. Kaos standar kain katun warna hitam polos dan putih polos, merk tidak terkenal, dengan harga yang cukup mahal dibandingkan kaos sejenis, namun menjadi tidak mahal akibat ide kreatif designer baju yang mendeskripsikan karakter-karakter manusia. Agreeable, Extrovert, ..., ..., dan yang terakhir adalah Perfectionist. Hmmm... Cukup kebetulan menurut saya, namun dapat membantu eksplorasi karakter yang ada pada diri teman saya tersebut. Karena teman saya itu begitu yakin bahwa karakter yang melekat pada dirinya adalah suatu hal yang baik, baik menurut saya karena dia tidak berusaha menghilangkan namun malah menonjolkannya, maka saya mengajaknya untuk membeli kaos tersebut.
Di luar dugaan, ”Mana mau aku pake baju ada tulisan’e perfectionist?”. Itu adalah ucapan yang keluar darinya ketika saya mengajaknya untuk membeli bersama kaos tersebut. Lho...?!?!?! Sejenak dua hal yang bertentangan muncul di pikiran saya. Bukankah dia begitu bangga dengan karakternya? Ketika ada media yang tepat untuk itu, dia malah menganggapnya sebagai sesuatu yang negatif, malah mungkin sesuatu yang menurutnya memalukan. Positif Vs. Negatif? Mana yang benar? Meskipun itu bukan satu-satunya alasan untuk tidak mau membeli, di samping karena size yang menurutnya tidak sesuai, tetaplah itu menjadi suatu pertanyaan besar buat saya.
Beberapa saat sebelum kita melihat kaos tersebut, kami masuk ke dalam sebuah toko sepatu yang tulisannya sedang mengadakan sale. Saya masuk dan tertarik untuk melihat beberapa pasang sepatu pada display, setelah melihat-lihat beberapa barang, saya mengembalikannya ke rak display, namun tanpa disangka teman saya tersebut membalik-balik sepatu yang saya kembalikan tersebut. Saya bertanya-tanya kepada teman saya yang lain, mengapa? Ternyata jawabannya adalah karena sepatu-sepatu display yang lain dipajang menghadap ke kanan namun saya mengembalikannya tidak benar karena ada beberapa yang menjadi menghadap ke kiri. Apakah itu adalah sebuah kesalahan? Tidak menurut saya, tidak ada tulisan mengembalikan sepatu harus menghadap ke kanan atau sejenisnya, namun ternyata dia mengembalikannya menghadap ke kanan. Biarlah itu dilakukannya, mungkin dia sedang menumpuk kebaikan dengan membantu tugas si SPG atau mungkin dia ingin berlatih menjadi SPG? Dia sendiri yang tahu.
Beberapa hari berselang, di pabrik tempat saya magang bersama dengannya, ada rekan sekerja saya yang ”salah” membuang sampah. Sudah pada tempatnya namun tidak sesuai dengan golongan sampah yang seharusnya, sampah plastik dimasukkan ke dalam tong sampah non plastik berwarna kuning. Saya juga tidak tahu apakah itu adalah sebuah kesalahan, menurut saya hal itu bukanlah suatu masalah karena tidak ada tulisan di tong sampah itu dan saya rasa hampir semua orang salah membuang sampah ke sana baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Diapun menegur teman saya yang menurutnya salah membuang sampah itu, ”Kamu salah tempat sampah, itu tempat sampah bukan plastik.”. Saya teringat kejadian di toko sepatu dan menyeletuk, ”Kalau kamu merasa itu adalah sebuah kesalahan, pungut saja dan buang ke tempat yang menurutmu benar”. Saya berpatokan pada peristiwa di toko sepatu tentang tindakan langsung yang dilakukannya ketika dia menjumpai sebuah kesalahan, namun setelah ditunggu-tunggu ternyata peristiwa pungut sampah itu tidak terjadi. Sayapun kecewa. Mengapa? Mungkinkah dia sedang tidak ingin menumpuk kebaikan dengan membantu tugas si petugas kebersihan atau mungkin dia tidak ingin berlatih menjadi petugas kebersihan? Dia sendiri yang tahu, namun sekali lagi itu menjadi dua hal yang bertentangan.
Akhir kata, semua orang tidak sempurna, pasti setiap dari kita akan melakukan kesalahan, atau dengan kata lain, ”Saya tidak mau dikritik oleh orang yang saya rasa tidak lebih benar dari saya!”. Sebuah ungkapan paling bodoh untuk siapa yang tidak bersedia mengakui besarnya kesalahan yang ada pada dirinya sendiri, pengecut. Tidak sependapat? Saya menunggu segala jenis tanggapan, saran, maupun kritik di email saya.

Ivan Arista
ivan_arista@yahoo.com+628123100679

Sunday, 13 July 2008

AWAS! JANGAN TEKAN TOMBOL BAWAH!!!

AWAS! JANGAN TEKAN TOMBOL BAWAH!!!

Pernahkah anda membaca kalimat itu? Mungkin sebagian dari kita sudah mengetahuinya, kalimat tersebut merupakan penggalan dari SMS lucu yang mana apabila kita meneruskan menekan tombol bawah, akan muncul gambar-gambar lucu, seperti monyet atau babi yang digambarkan oleh si pengirim sebagai muka asli kita. Hehehe... Lucu? Jayus? Sudah biasa? Terserah anda karena saya tidak sedang ingin membahas SMS lucu, namun saya ingin bertanya kepada anda, apa yang kita lakukan apabila kita menerima sebuah kalimat yang berisikan larangan?
Saya yakin bahwa hampir pasti anda akan terus menekan tombol ke bawah karena anda penasaran mengetahui apa kelanjutannya. Mengapa anda tidak boleh melihatnya? Itu yang mungkin menjadi motivasi anda atau sekedar rasa ingin tahu. Satu hal yang bisa dijadikan kesimpulan, semakin anda dilarang untuk melakukan sesuatu, semakin anda terpanggil untuk melakukannya. Hal tersebut merupakan sifat dasar manusia sebagai makhluk yang bebas, kreatif, mempunyai kehendak masing-masing, sehingga mereka tidak menyukai adanya aturan-aturan yang membatasi, yang mengekang, dan melarang mereka melakukan segala sesuatu. Manusia akan lebih memilih untuk melanggar peraturan dan berkata, ”Asal tidak ketahuan, kan tidak masalah.” daripada menuruti larangan tersebut meskipun sudah tahu alasannya, apalagi jika tidak tahu alasannya.
Saat anda melewati kursi dengan tulisan ”Jangan disentuh, cat masih basah”. Apakah yang anda lakukan? Berapa persen dari kita yang melewatinya begitu saja? Berapa persen dari kita yang iseng untuk sekedar menyentuhnya untuk memastikan bahwa cat di kursi itu masih benar-benar basah? Saya sangat yakin lebih banyak dari kita yang akan melakukan pilihan kedua ini. Manusia akan puas ketika menemukan kesalahan orang lain. Orang yang menyentuh kursi itu akan berkata, ”Tulisan itu salah, saya sudah membuktikan dengan menyentuhnya bahwa cat itu sudah kering”, apabila dia menemui bahwa cat itu sudah kering. Apabila ternyata memang cat itu masih basah, ya sudahlah. Anggap semuanya tidak pernah terjadi. Toh, tidak ada yang mengetahui jika kita telah menyentuh kursi itu. Toh, kita juga tidak mendapatkan kerugian apa-apa. Kondisi ini adalah contoh lain yang membuktikan bahwa pada dasarnya sifat manusia adalah bebas dan membenci peraturan.
Nah, saya yakin sebagian dari anda sudah mengetahui hal itu, namun mengapa di kehidupan kita masih terdapat begitu banyak peraturan? Mengapa kita suka membuat peraturan-peraturan baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang lain? Orang yang suka membuat peraturan akan berkata bahwa peraturan diciptakan untuk membuat segala sesuatu lebih teratur. Dengan peraturan, tidak akan terjadi tindak kejahatan, pencurian, pembunuhan, dan lain sebagainya. Yah, memang benar. Saya setuju dengan diberlakukannya peraturan yang melindungi hak-hak asasi manusia seperti itu, namun apabila peraturan itu dibuat seperti jangan mencontek waktu ujian, jangan terlambat masuk kuliah, jangan parkir mobil dengan kepala menghadap ke depan, jangan menduduki kursi ini karena cat masih basah, dan lain sebagainya, saya pribadi tidak akan menyukainya. Mengapa? Karena semakin banyak peraturan, semakin banyak orang yang melanggarnya. Lantas bagaimana? Tidak perlu peraturan? Tidak juga!
Sempat suatu hari saya berbincang-bincang dengan teman saya yang berkuliah di Fontys, Belanda. Dia berkunjung ke Filipina untuk keperluan penelitian studinya. Salah satu topik paling menarik menurut saya yang saya ingat sampai sekarang adalah bagaimana dia mengatakan pemerintah negara-negara di Asia adalah bodoh, terutama pemerintah di Filipina. Saya yakin dia akan menganggap pemerintah Indonesia lebih bodoh lagi karena menerapkan lebih banyak peraturan daripada pemerintah di Filipina. Dia berkata, ”Mengapa prostitusi dilarang? Mungkinkah pemerintah mengekang hal tersebut?”, ”Mengapa ujian dilarang mencontek? Seberapa mampu pengawas ujian mengawasi mahasiswanya?”, dan ”Mengapa konsumsi narkotika dilarang? Berapa banyak kasus yang lolos dari pengawasan pemerintah?”. Dengan polosnya saya bertanya, ”Lantas bagaimana?”. Diapun menjawab, ”Untuk masalah prostitusi, pemerintah Belanda tidak melarangnya namun memberikan penjelasan yang lebih detail mengenai bahaya HIV dan AIDS serta mengajarkan bagaimana melakukan hubungan seksual yang aman.”, ”Untuk masalah mencontek waktu ujian, penyusun kurikulum pendidikan selalu menganjurkan untuk membuat ujian yang bersifat terbuka, sehingga tidak memungkinkan mahasiswa untuk menjiplak persis jawaban temannya”, dan ”Untuk masalah narkotika, pemerintah Belanda memberikan alternatif tempat di mana saja barang-barang itu boleh dikonsumsi, seperti di pub, klub malam, diskotik, dan lain sebagainya namun dengan batasan jumlah tertentu.”. Ditambahkannya, ”Hal ini masih banyak terjadi di hal-hal yang lain”.
Saya sangat kagum dengan pola pikir yang dimilikinya, yang dimiliki pemerintah Belanda, dan warga-warganya. Mengapa membuat peraturan kalau sudah pasti tidak mampu melaksanakannya dan masih banyak yang melanggar? Milikilah pola pikir terbalik, cari dampak dari mengapa larangan tersebut dibuat, buat bagaimana kita dapat menghindari dampak negatifnya tanpa membuat larangan. Itu menurut saya lebih baik. Sebagai contoh adalah larangan terlambat masuk kerja atau kuliah, mengapa larangan tersebut dibuat? Dampaknya akan semakin negatif apabila mahasiswa atau karyawan melihat dosen atau atasan yang terlambat. Untuk kehidupan kampus, dosen dapat membuat bagaimana mahasiswa bisa merasa sayang untuk melewatkan awal-awal pertemuan dan untuk kehidupan kerja, buat bagaimana rekan-rekan sekerja membuat orang yang terlambat menjadi tidak nyaman. Kesadaran dan keinginan pribadi untuk tidak terlambat akan lebih berpengaruh daripada paksaan dari peraturan yang tidak tahu mengapa dibuatnya.
Bagaimana cara menumbuhkan kesadaran pribadi tanpa melalui pembuatan larangan? Ambil contoh untuk kegiatan kemahasiswaan di kampus, bagaimana membuat seorang anggota kepanitiaan rutin mengikuti rapat tanpa membuat peraturan atau ancaman? Banyak alternatif yang dapat dilakukan, misalkan dengan mencuekkan anggota yang tidak datang terlambat, tidak memberitahu hasil rapat kepada anggota yang tidak datang, membuat rapat menjadi sesuatu yang berguna dan menarik sehingga anggota menjadi sayang untuk melewatkan rapat, dan lain sebagainya. Dengan demikian, selain tanpa perlu membuat peraturan-peraturan yang mana akan dilanggar oleh mayoritas, kita juga dapat melatih kreativitas kita, bukan? Jadi, masihkah anda ingin membuat peraturan-peraturan lagi?
Akhir kata, semua orang tidak sempurna, pasti setiap dari kita akan melakukan kesalahan, atau dengan kata lain, ”Saya tidak mau dikritik oleh orang yang saya rasa tidak lebih benar dari saya!”. Sebuah ungkapan paling bodoh untuk siapa yang tidak bersedia mengakui besarnya kesalahan yang ada pada dirinya sendiri, pengecut. Tidak sependapat? Saya menunggu segala jenis tanggapan, saran, maupun kritik di email saya.
O, ya. Apabila anda ingin berbincang-bincang langsung dengan mahasiswa Belanda yang saya ceritakan di atas, silahkan kirimkan email ke saya, saya akan memberikan emailnya.

Ivan Arista
Email/ FS : ivan_arista@yahoo.com
MSN : ivan_arista@hotmail.com
http://ivanarista.blogspot.com
www.friendster.com/ivanarista

Sunday, 22 June 2008

5.10 atau 5.25 ?

5.10 atau 5.25?

Suatu hari, setelah saya selesai bekerja, saya masuk ke kendaraan antar jemput untuk pulang ke apartemen. Sayapun melihat ke jam tangan teman yang berada di samping kanan saya, ternyata waktu yang ditunjukkan dari jam tangannya terbaca pukul 5.25. Saya mendadak heran, apakah saya berjalan sedemikian lama dari kantor tempat saya bekerja ke tempat parkir mobil itu? Saya keluar dari kantor tepat pukul 5.00 dan sekarang sudah pukul 5.25? Tidak mungkin. Sayapun melihat jam tangan saya, ternyata masih pukul 5.10. Lho, mana yang benar?

Saya yakin semua sudah tau jawabannya, teman saya mempercepat jam tangannya. Sayapun berpikir, bukankah itu tindakan menipu diri sendiri? Ternyata tidak, teman saya menganggap hal itu bukan kegiatan menipu diri sendiri namun sebaliknya, hal itu malah bermanfaat positif untuk dirinya. Dia menjelaskan bahwa hal itu bisa membuatnya tidak terlambat di pagi hari dan membuatnya tepat waktu di saat-saat yang diperlukan. Bagaimana bisa? Diapun menjelaskan, dengan melihat waktu yang lebih cepat, seakan-akan waktu telah berlalu sehingga harus sesegera mungkin melanjutkan aktivitas ke kegiatan yang berikutnya.

Selain itu, teman saya juga menjelaskan bahwa hal ini tidak perlu diperdebatkan karena merupakan haknya sendiri. Jam tangan adalah jam tangan miliknya pribadi sehingga dia bebas untuk mengaturnya sebagaimanapun dia suka. Untuk alasan kali ini, saya setuju, karena itu memang merupakan kebebasan setiap kita untuk mengelola apa yang kita punya, namun lebih jauh saya berpikir, apabila si pemilik bebas mengatur sesuai dengan kehendaknya, maka orang-orang yang melihat hasil karya tersebut juga bebas untuk berpikir dan memberikan tanggapan, bukan? Sama-sama tidak ada peraturan yang melarang.

Kembali ke permasalahan pertama, saya berpendapat apabila saya melakukannya, bagaimana mungkin saya dapat mempercepat kegiatan saya apabila saya jelas-jelas tahu bahwa jam tersebut menunjukkan waktu yang terlampau cepat, karena saya sendiri yang mempercepatnya. Apabila teman saya ini bisa merasa termotivasi dengan jam tangan yang dipercepat ini, bukankan berarti dia termotivasi dengan hal-hal yang sifatnya tidak benar alias tipuan? Yah, dengan demikian dapat dikatakan bahwa orang yang demikian dapat termotivasi apabila ditipu oleh orang lain. Benar tidak?

Saya tidak mengatakan lebih jauh apakah mempercepat jam, baik jam tangan, jam dinding, jam weker, jam handphone, dan jam-jam apapun lainnya adalah salah, namun saya tidak pernah menganggapnya benar. Saya mengetahui bahwa banyak orang melakukan hal yang serupa. Satu hal yang saya bayangkan pada mereka semua adalah bahwa mereka-mereka ini adalah orang yang suka menipu diri sendiri sehingga bersyukur sampai dengan saat ini, saya belum pernah melakukannya.

Menipu diri sendiri? Ya! Bukankah mempercepat jam itu berarti menipu diri sendiri? Saya seringkali merasa heran, banyak orang pada umumnya merasa marah, jengkel, dan benci apabila mereka menemui ternyata mereka ditipu oleh orang lain. Mereka menganggap rendah orang yang suka menipu, menganggapnya sebagai orang yang tidak dapat dipercaya, pengkhianat, dan lain sebagainya, namun kenyataannya ada juga orang yang melakukannya untuk memotivasi diri sendiri.

Pada orang-orang seperti yang saya ceritakan di atas, mereka justru menipu dirinya sendiri padahal, idealnya, setiap orang akan paling menyayangi dirinya sendiri dibandingkan dengan siapapun. Apabila orang-orang itu suka menipu dirinya sendiri, bukankah berarti mereka juga mengijinkan atau bahkan mengundang orang lain untuk menipu dirinya? Bukankah dengan tipuan-tipuan yang lebih banyak, yang diberikan oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain, akan lebih memotivasi dirinya sendiri menuju ke arah yang lebih baik?

Teman-temanku, bentuk penipuan terhadap diri kita sendiri tidak hanya terbatas pada mempercepat jam tangan saja. Banyak contoh-contoh sederhana yang sering kali terjadi di kehidupan kita, seperti membuat perkecualian-perkecualian atau batasan-batasan di dalam diri kita sendiri yang justru akan menyusahkan diri sendiri dan melebihi kapasitas yang kita miliki, mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dipikirkan atau diketahui demikian juga sebaliknya, mengerjakan sesuatu meskipun sudah mengetahui hal tersebut tidak sesuai dengan keinginan atau prinsip kebenaran yang kita yakini, dan lain sebagainya. Yah, saya sendiri juga sering melakukan hal-hal serupa di dalam kehidupan saya. Tidak mungkin untuk dihilangkan 100% karena berbagai alasan, seperti malas, sungkan, dan lain sebagainya, namun saya juga berusaha untuk menyadari bahwa jika orang lain berkata tidak benar kepada saya, saya juga melakukannya kepada diri saya sendiri. Maklum saja, lah...

Semuanya kembali kepada kita masing-masing. Sama seperti konsep terkenal, lakukanlah apa yang ingin orang lain lakukan terhadapmu. Berbuat baiklah kepada siapapun jika kita ingin orang lain berbuat baik kepada kita, sama halnya dengan bohongilah siapapun, termasuk diri kita sendiri, apabila kita ingin dibohongi orang lain. Apabila kita yang seharusnya paling mencintai diri kita sendiri saja sampai menipu diri sendiri, mengapa orang lain tidak boleh menipu kita?
Akhir kata, semua orang tidak sempurna, pasti setiap dari kita akan melakukan kesalahan, atau dengan kata lain, ”Saya tidak mau dikritik oleh orang yang saya rasa tidak lebih benar dari saya!”. Sebuah ungkapan paling bodoh untuk siapa yang tidak bersedia mengakui besarnya kesalahan yang ada pada dirinya sendiri, pengecut. Tidak sependapat? Saya menunggu segala jenis tanggapan, saran, maupun kritik di email saya.

Ivan Arista
Email/ FS : ivan_arista@yahoo.com
MSN : ivan_arista@hotmail.com
http://ivanarista.blogspot.com (Indonesia/ English)
http://guantongyi.blogspot.com (Chinese)
www.friendster.com/ivanarista

Friday, 6 June 2008

Jika kau diinjak kakimu...

Jika kau di-(Bukan: Ter)-injak kakimu, …

... dan kau mematahkan kakinya, siapa yang bersalah?

Pertanyaan ini sering muncul di dalam kehidupan saya, mungkin kita semua dalam versi lain yang tidak kita sadari. Menurut saya, hal ini berkaitan dengan konsep keadilan yang ada di dalam masing-masing individu. Sering kali orang berpendapat bahwa tidak peduli, yang pertama-tama cari gara-gara pastilah salah. Apakah pemikiran itu selalu benar? Saya merasa tidak sama sekali, bahkan orang-orang dengan prinsip ”yang memulai” atau ”yang cari gara-gara” selalu salah adalah orang yang tidak bernalar sehat!

Bagaimana mungkin dapat dikatakan jika demikian maka pastilah demikian? Tidak ada sesuatu yang pasti di dunia ini, demikian pula dengan pola pikir ini. Kita harus bersikap kontekstual dengan mempertimbangkan setiap kondisi dengan akal sehat yang kita miliki, bukan dengan emosi atau terlebih kacamata kuda yang membuat mata kita buta dari perspektif-perspektif lain yang disampaikan orang lain kepada diri kita. Efek dari kacamata kuda yang kita kenakan itulah yang pada akhirnya dapat membawa kita masing-masing ke dalam kesalahan pola pikir dan mengungkung kita di dalam segala keterbatasan tanpa melihat segala masalah dari sisi yang lebih luas.

Ada empat kemungkinan jawaban dari pertanyaan di atas, yaitu si penginjak yang bersalah, si pematah yang bersalah, keduanya bersalah, atau keduanya bersalah. Apakah jawaban anda? Jika anda mengatakan ”Pasti, disertai salah satu pilihan jawaban”, maka anda telah terjebak di dalam pemikiran sempit! Bagaimana anda bisa mengatakan pasti apabila anda tidak mengetahui kondisinya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Mengapa si penginjak menginjak kaki terinjak? Mungkin saja si penginjak tersebut iseng atau mungkin juga si penginjak telah ditampar sebelumnya oleh si terinjak. Demikian pula sebaliknya, mengapa si pematah mematahkan kaki si penginjak? Banyak kemungkinan penyebab. Jadi, masihkah anda merasa jawaban ”Pasti” adalah jawaban yang masuk akal?Jangan pernah terpatok secara kaku pada suatu masalah. Lihatlah secara kontekstual karena kondisi setiap masalah adalah berbeda dan tidak dapat disamaratakan sesuai dengan konsep dan persepsi tentang kebenaran yang anda miliki. Seringkali pula emosilah yang membutakan anda dan membuat kita mengambil keputusan yang bakal kita sadari sebagai keputusan yang tidak bisa dinalar sehat apabila kita memikirkannya dengan kepala dingin. Jangan pernah tergesa-gesa mengambil keputusan, semakin banyak yang ketahui akan semakin baik, dan yang terpenting... Tetap tenang!
Ivan Arista
ivan_arista@yahoo.com
+628123100679