Contact Me

Email me: ivan_arista@yahoo.com


Sunday, 22 June 2008

5.10 atau 5.25 ?

5.10 atau 5.25?

Suatu hari, setelah saya selesai bekerja, saya masuk ke kendaraan antar jemput untuk pulang ke apartemen. Sayapun melihat ke jam tangan teman yang berada di samping kanan saya, ternyata waktu yang ditunjukkan dari jam tangannya terbaca pukul 5.25. Saya mendadak heran, apakah saya berjalan sedemikian lama dari kantor tempat saya bekerja ke tempat parkir mobil itu? Saya keluar dari kantor tepat pukul 5.00 dan sekarang sudah pukul 5.25? Tidak mungkin. Sayapun melihat jam tangan saya, ternyata masih pukul 5.10. Lho, mana yang benar?

Saya yakin semua sudah tau jawabannya, teman saya mempercepat jam tangannya. Sayapun berpikir, bukankah itu tindakan menipu diri sendiri? Ternyata tidak, teman saya menganggap hal itu bukan kegiatan menipu diri sendiri namun sebaliknya, hal itu malah bermanfaat positif untuk dirinya. Dia menjelaskan bahwa hal itu bisa membuatnya tidak terlambat di pagi hari dan membuatnya tepat waktu di saat-saat yang diperlukan. Bagaimana bisa? Diapun menjelaskan, dengan melihat waktu yang lebih cepat, seakan-akan waktu telah berlalu sehingga harus sesegera mungkin melanjutkan aktivitas ke kegiatan yang berikutnya.

Selain itu, teman saya juga menjelaskan bahwa hal ini tidak perlu diperdebatkan karena merupakan haknya sendiri. Jam tangan adalah jam tangan miliknya pribadi sehingga dia bebas untuk mengaturnya sebagaimanapun dia suka. Untuk alasan kali ini, saya setuju, karena itu memang merupakan kebebasan setiap kita untuk mengelola apa yang kita punya, namun lebih jauh saya berpikir, apabila si pemilik bebas mengatur sesuai dengan kehendaknya, maka orang-orang yang melihat hasil karya tersebut juga bebas untuk berpikir dan memberikan tanggapan, bukan? Sama-sama tidak ada peraturan yang melarang.

Kembali ke permasalahan pertama, saya berpendapat apabila saya melakukannya, bagaimana mungkin saya dapat mempercepat kegiatan saya apabila saya jelas-jelas tahu bahwa jam tersebut menunjukkan waktu yang terlampau cepat, karena saya sendiri yang mempercepatnya. Apabila teman saya ini bisa merasa termotivasi dengan jam tangan yang dipercepat ini, bukankan berarti dia termotivasi dengan hal-hal yang sifatnya tidak benar alias tipuan? Yah, dengan demikian dapat dikatakan bahwa orang yang demikian dapat termotivasi apabila ditipu oleh orang lain. Benar tidak?

Saya tidak mengatakan lebih jauh apakah mempercepat jam, baik jam tangan, jam dinding, jam weker, jam handphone, dan jam-jam apapun lainnya adalah salah, namun saya tidak pernah menganggapnya benar. Saya mengetahui bahwa banyak orang melakukan hal yang serupa. Satu hal yang saya bayangkan pada mereka semua adalah bahwa mereka-mereka ini adalah orang yang suka menipu diri sendiri sehingga bersyukur sampai dengan saat ini, saya belum pernah melakukannya.

Menipu diri sendiri? Ya! Bukankah mempercepat jam itu berarti menipu diri sendiri? Saya seringkali merasa heran, banyak orang pada umumnya merasa marah, jengkel, dan benci apabila mereka menemui ternyata mereka ditipu oleh orang lain. Mereka menganggap rendah orang yang suka menipu, menganggapnya sebagai orang yang tidak dapat dipercaya, pengkhianat, dan lain sebagainya, namun kenyataannya ada juga orang yang melakukannya untuk memotivasi diri sendiri.

Pada orang-orang seperti yang saya ceritakan di atas, mereka justru menipu dirinya sendiri padahal, idealnya, setiap orang akan paling menyayangi dirinya sendiri dibandingkan dengan siapapun. Apabila orang-orang itu suka menipu dirinya sendiri, bukankah berarti mereka juga mengijinkan atau bahkan mengundang orang lain untuk menipu dirinya? Bukankah dengan tipuan-tipuan yang lebih banyak, yang diberikan oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain, akan lebih memotivasi dirinya sendiri menuju ke arah yang lebih baik?

Teman-temanku, bentuk penipuan terhadap diri kita sendiri tidak hanya terbatas pada mempercepat jam tangan saja. Banyak contoh-contoh sederhana yang sering kali terjadi di kehidupan kita, seperti membuat perkecualian-perkecualian atau batasan-batasan di dalam diri kita sendiri yang justru akan menyusahkan diri sendiri dan melebihi kapasitas yang kita miliki, mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dipikirkan atau diketahui demikian juga sebaliknya, mengerjakan sesuatu meskipun sudah mengetahui hal tersebut tidak sesuai dengan keinginan atau prinsip kebenaran yang kita yakini, dan lain sebagainya. Yah, saya sendiri juga sering melakukan hal-hal serupa di dalam kehidupan saya. Tidak mungkin untuk dihilangkan 100% karena berbagai alasan, seperti malas, sungkan, dan lain sebagainya, namun saya juga berusaha untuk menyadari bahwa jika orang lain berkata tidak benar kepada saya, saya juga melakukannya kepada diri saya sendiri. Maklum saja, lah...

Semuanya kembali kepada kita masing-masing. Sama seperti konsep terkenal, lakukanlah apa yang ingin orang lain lakukan terhadapmu. Berbuat baiklah kepada siapapun jika kita ingin orang lain berbuat baik kepada kita, sama halnya dengan bohongilah siapapun, termasuk diri kita sendiri, apabila kita ingin dibohongi orang lain. Apabila kita yang seharusnya paling mencintai diri kita sendiri saja sampai menipu diri sendiri, mengapa orang lain tidak boleh menipu kita?
Akhir kata, semua orang tidak sempurna, pasti setiap dari kita akan melakukan kesalahan, atau dengan kata lain, ”Saya tidak mau dikritik oleh orang yang saya rasa tidak lebih benar dari saya!”. Sebuah ungkapan paling bodoh untuk siapa yang tidak bersedia mengakui besarnya kesalahan yang ada pada dirinya sendiri, pengecut. Tidak sependapat? Saya menunggu segala jenis tanggapan, saran, maupun kritik di email saya.

Ivan Arista
Email/ FS : ivan_arista@yahoo.com
MSN : ivan_arista@hotmail.com
http://ivanarista.blogspot.com (Indonesia/ English)
http://guantongyi.blogspot.com (Chinese)
www.friendster.com/ivanarista

Friday, 6 June 2008

Jika kau diinjak kakimu...

Jika kau di-(Bukan: Ter)-injak kakimu, …

... dan kau mematahkan kakinya, siapa yang bersalah?

Pertanyaan ini sering muncul di dalam kehidupan saya, mungkin kita semua dalam versi lain yang tidak kita sadari. Menurut saya, hal ini berkaitan dengan konsep keadilan yang ada di dalam masing-masing individu. Sering kali orang berpendapat bahwa tidak peduli, yang pertama-tama cari gara-gara pastilah salah. Apakah pemikiran itu selalu benar? Saya merasa tidak sama sekali, bahkan orang-orang dengan prinsip ”yang memulai” atau ”yang cari gara-gara” selalu salah adalah orang yang tidak bernalar sehat!

Bagaimana mungkin dapat dikatakan jika demikian maka pastilah demikian? Tidak ada sesuatu yang pasti di dunia ini, demikian pula dengan pola pikir ini. Kita harus bersikap kontekstual dengan mempertimbangkan setiap kondisi dengan akal sehat yang kita miliki, bukan dengan emosi atau terlebih kacamata kuda yang membuat mata kita buta dari perspektif-perspektif lain yang disampaikan orang lain kepada diri kita. Efek dari kacamata kuda yang kita kenakan itulah yang pada akhirnya dapat membawa kita masing-masing ke dalam kesalahan pola pikir dan mengungkung kita di dalam segala keterbatasan tanpa melihat segala masalah dari sisi yang lebih luas.

Ada empat kemungkinan jawaban dari pertanyaan di atas, yaitu si penginjak yang bersalah, si pematah yang bersalah, keduanya bersalah, atau keduanya bersalah. Apakah jawaban anda? Jika anda mengatakan ”Pasti, disertai salah satu pilihan jawaban”, maka anda telah terjebak di dalam pemikiran sempit! Bagaimana anda bisa mengatakan pasti apabila anda tidak mengetahui kondisinya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Mengapa si penginjak menginjak kaki terinjak? Mungkin saja si penginjak tersebut iseng atau mungkin juga si penginjak telah ditampar sebelumnya oleh si terinjak. Demikian pula sebaliknya, mengapa si pematah mematahkan kaki si penginjak? Banyak kemungkinan penyebab. Jadi, masihkah anda merasa jawaban ”Pasti” adalah jawaban yang masuk akal?Jangan pernah terpatok secara kaku pada suatu masalah. Lihatlah secara kontekstual karena kondisi setiap masalah adalah berbeda dan tidak dapat disamaratakan sesuai dengan konsep dan persepsi tentang kebenaran yang anda miliki. Seringkali pula emosilah yang membutakan anda dan membuat kita mengambil keputusan yang bakal kita sadari sebagai keputusan yang tidak bisa dinalar sehat apabila kita memikirkannya dengan kepala dingin. Jangan pernah tergesa-gesa mengambil keputusan, semakin banyak yang ketahui akan semakin baik, dan yang terpenting... Tetap tenang!
Ivan Arista
ivan_arista@yahoo.com
+628123100679