Contact Me

Email me: ivan_arista@yahoo.com


Friday, 6 June 2008

Jika kau diinjak kakimu...

Jika kau di-(Bukan: Ter)-injak kakimu, …

... dan kau mematahkan kakinya, siapa yang bersalah?

Pertanyaan ini sering muncul di dalam kehidupan saya, mungkin kita semua dalam versi lain yang tidak kita sadari. Menurut saya, hal ini berkaitan dengan konsep keadilan yang ada di dalam masing-masing individu. Sering kali orang berpendapat bahwa tidak peduli, yang pertama-tama cari gara-gara pastilah salah. Apakah pemikiran itu selalu benar? Saya merasa tidak sama sekali, bahkan orang-orang dengan prinsip ”yang memulai” atau ”yang cari gara-gara” selalu salah adalah orang yang tidak bernalar sehat!

Bagaimana mungkin dapat dikatakan jika demikian maka pastilah demikian? Tidak ada sesuatu yang pasti di dunia ini, demikian pula dengan pola pikir ini. Kita harus bersikap kontekstual dengan mempertimbangkan setiap kondisi dengan akal sehat yang kita miliki, bukan dengan emosi atau terlebih kacamata kuda yang membuat mata kita buta dari perspektif-perspektif lain yang disampaikan orang lain kepada diri kita. Efek dari kacamata kuda yang kita kenakan itulah yang pada akhirnya dapat membawa kita masing-masing ke dalam kesalahan pola pikir dan mengungkung kita di dalam segala keterbatasan tanpa melihat segala masalah dari sisi yang lebih luas.

Ada empat kemungkinan jawaban dari pertanyaan di atas, yaitu si penginjak yang bersalah, si pematah yang bersalah, keduanya bersalah, atau keduanya bersalah. Apakah jawaban anda? Jika anda mengatakan ”Pasti, disertai salah satu pilihan jawaban”, maka anda telah terjebak di dalam pemikiran sempit! Bagaimana anda bisa mengatakan pasti apabila anda tidak mengetahui kondisinya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Mengapa si penginjak menginjak kaki terinjak? Mungkin saja si penginjak tersebut iseng atau mungkin juga si penginjak telah ditampar sebelumnya oleh si terinjak. Demikian pula sebaliknya, mengapa si pematah mematahkan kaki si penginjak? Banyak kemungkinan penyebab. Jadi, masihkah anda merasa jawaban ”Pasti” adalah jawaban yang masuk akal?Jangan pernah terpatok secara kaku pada suatu masalah. Lihatlah secara kontekstual karena kondisi setiap masalah adalah berbeda dan tidak dapat disamaratakan sesuai dengan konsep dan persepsi tentang kebenaran yang anda miliki. Seringkali pula emosilah yang membutakan anda dan membuat kita mengambil keputusan yang bakal kita sadari sebagai keputusan yang tidak bisa dinalar sehat apabila kita memikirkannya dengan kepala dingin. Jangan pernah tergesa-gesa mengambil keputusan, semakin banyak yang ketahui akan semakin baik, dan yang terpenting... Tetap tenang!
Ivan Arista
ivan_arista@yahoo.com
+628123100679